NEGARA, JEMBRANA – Jauh dari hiruk-pikuk kelab malam Seminyak atau pusat meditasi Ubud, terdapat sebuah tradisi yang memacu adrenalin di ujung barat Pulau Dewata. Makepung, tradisi balap kerbau khas Kabupaten Jembrana, kini mulai naik daun sebagai atraksi budaya kelas dunia yang menawarkan sisi maskulinitas dan kegagahan budaya agraris Bali.
Lebih dari Sekadar Balapan
Makepung berasal dari kata “makepung-kepungan” yang berarti berkejar-kejaran. Tradisi ini berawal dari aktivitas para petani yang mengisi waktu luang saat membajak sawah. Kini, Makepung telah bertransformasi menjadi festival besar yang memperebutkan Piala Gubernur (Governor’s Cup).
Yang membuat Makepung unik adalah estetika dan kegagahannya:
-
Kerbau yang Berhias: Sepasang kerbau yang bertanding mengenakan hiasan kepala berwarna-warni yang disebut rumbah dan kain adat yang megah.
-
Cikar (Gerobak) Kayu: Sang joki berdiri di atas kereta kayu yang diukir indah, mengendalikan dua kerbau besar dengan kecepatan tinggi di atas lintasan tanah sepanjang 2 kilometer.
-
Seni Budaya: Balapan ini selalu diiringi oleh dentuman musik Jegog (gamelan bambu khas Jembrana) yang menambah suasana magis dan semangat.
Simbol Kedekatan Petani dan Alam
Bagi masyarakat Jembrana, Makepung adalah bentuk penghormatan kepada kerbau yang telah membantu mereka di sawah. Ini adalah pameran kekuatan, ketangkasan, dan harmoni antara manusia dengan hewan ternaknya. Turis mancanegara yang mencari “budaya otentik” akan terkesima melihat bagaimana para joki menunjukkan keberanian mereka tanpa menghilangkan unsur ritual dan spiritual.
Mengapa Wisatawan Harus ke Jembrana?
Jembrana menawarkan pengalaman “The Wild West of Bali”. Menonton Makepung bukan hanya tentang melihat siapa yang tercepat sampai di garis finis, tetapi tentang merasakan getaran tanah saat kerbau-kerbau itu berlari dan mendengar teriakan semangat para pendukung tim “Ijo Gading” (Barat) dan “Jogojeroh” (Timur).
“Menonton Makepung memberi saya perspektif baru. Bali bukan hanya soal ketenangan, tapi juga soal energi yang luar biasa kuat dan tradisi yang masih sangat hidup di tangan para petani,” ungkap Mark, seorang fotografer perjalanan asal Australia.
Waktu Terbaik Berkunjung
Musim Makepung biasanya berlangsung antara Juli hingga November, dengan puncaknya pada bulan November di sirkuit utama di Kota Negara. Wisatawan disarankan untuk datang pagi hari (pukul 07.30 WITA) untuk melihat prosesi persiapan kerbau yang sangat fotogenik.
























