Sampah Mudik Bali 2,5 Ton, Pembersihan Tersendat

Pojok Kota9 Dilihat
banner 468x60

BALI, Radarinspirasi.com – Tumpukan sampah mencapai 2,5 ton ditemukan di jalur nasional Gilimanuk–Melaya usai kemacetan parah arus mudik Nyepi dan Lebaran 2026, mengungkap lemahnya pengelolaan sampah di titik krusial pintu masuk Pulau Dewata.

Kemacetan lebih dari 24 jam memicu penumpukan sampah plastik di sepanjang jalan utama, dari Kelurahan Gilimanuk hingga Kecamatan Melaya. Kondisi ini tidak mampu ditangani dalam satu hari pembersihan, meski otoritas setempat mengklaim telah bergerak cepat.

banner 336x280

Pembersihan difokuskan di jalur vital, mulai kawasan depan pura hingga pasar umum. Namun, volume sampah yang diangkut menunjukkan lonjakan signifikan dalam waktu singkat, menandakan tingginya tekanan lingkungan akibat arus kendaraan.

Lurah Gilimanuk, Ida Bagus Tony Wirahadikusuma, mengungkapkan dalam dua hari petugas mengumpulkan 1,5 ton sampah pada hari pertama dan 1 ton pada hari berikutnya. Angka tersebut belum mencakup seluruh wilayah terdampak.

Fakta di lapangan menunjukkan pembersihan belum menjangkau sisi timur jalan dan kawasan hutan, yang justru berpotensi menyimpan sisa sampah lebih besar. Hal ini memunculkan pertanyaan terkait kesiapan sistem penanganan limbah di jalur padat pemudik.

Kendala utama terjadi di area hutan yang berada dalam wilayah Taman Nasional Bali Barat. Pembersihan belum dilakukan karena menunggu koordinasi lintas instansi, memperlihatkan lemahnya respons cepat di kawasan konservasi.

Sampah yang berhasil dikumpulkan sementara diangkut menggunakan kendaraan roda tiga menuju tempat penampungan sementara sebelum dipindahkan ke tempat pembuangan akhir. Proses ini dinilai belum efisien untuk menangani volume besar dalam waktu singkat.

Dampak serupa juga terjadi di wilayah Melaya. Camat Melaya, I Putu Gde Oka Santhika, mengakui banyaknya sampah yang berserakan di bahu jalan akibat kemacetan panjang, dengan jumlah mencapai puluhan hingga ratusan kilogram hanya dari satu titik pembersihan.

Kondisi ini menegaskan bahwa lonjakan arus mudik tidak hanya berdampak pada kemacetan, tetapi juga memicu krisis kebersihan yang belum diantisipasi secara sistematis. Tanpa perbaikan manajemen, kejadian serupa berpotensi terulang dan merusak citra Bali sebagai destinasi wisata dunia. (Red-Radarinspirasi)

banner 336x280

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *