MANGUPURA, Radarinspirasi.com – Desa Adat Kelan, Kecamatan Kuta, menggelar Lomba Bulan Bahasa Bali VIII di Balai Banjar Adat Kelan Desa, Selasa (17/2/2026). Kegiatan yang dilaksanakan Widyasabha Desa Adat Kelan itu diikuti krama dari dua banjar adat secara bergilir.
Koordinator Penyuluh Bahasa Bali Kecamatan Kuta, I Wayan Warsa, menyatakan pelaksanaan Bulan Bahasa Bali di Desa Adat Kelan rutin digelar setiap tahun dengan sistem bergantian antarbanjar. Tahun ini kegiatan dipusatkan di Banjar Adat Kelan Desa, setelah sebelumnya berlangsung di Banjar Adat Kelan Abian.
“Sistem bergilir ini untuk memberi kesempatan dan pemerataan partisipasi krama,” ujarnya.
Kegiatan dibuka Jro Bendesa Adat Kelan dan dihadiri prajuru desa adat, kelian adat, kepala lingkungan dari kedua banjar, Ketua Widyasabha Kecamatan Kuta, serta Lurah Tuban. Antusiasme peserta dan krama pendukung tampak mewarnai seluruh rangkaian lomba.
Adapun kategori yang diperlombakan meliputi mesatua basa Bali krama istri, mapidarta prajuru adat, ngwacen lontar, nyurat lontar, serta nyurat aksara Bali tingkat SD dengan jumlah peserta masing-masing banjar telah ditentukan. Secara keseluruhan, partisipasi peserta dan dukungan masyarakat dinilai meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Warsa menegaskan, pelaksanaan Bulan Bahasa Bali merupakan tindak lanjut kebijakan Pemerintah Provinsi Bali melalui Peraturan Daerah dan Peraturan Gubernur tentang pelindungan serta pelestarian basa, aksara, dan sastra Bali.
“Tujuannya agar bahasa, aksara, dan sastra Bali tetap ajeg dan lestari, sekaligus memotivasi masyarakat agar tidak malu menggunakan basa Bali dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.
Ia menambahkan, secara teoretis kegiatan ini memperkuat identitas budaya Bali, sedangkan secara praktis mendorong pembinaan pasraman bagi anak-anak, remaja, hingga krama adat, termasuk dalam dharmagita dan literasi aksara Bali.
Di sisi lain, tantangan globalisasi disebut turut memengaruhi penggunaan bahasa Bali di kalangan generasi muda yang semakin intens mempelajari bahasa asing. Bahkan, sebagian orang tua mulai terbiasa menggunakan bahasa non-Bali dalam komunikasi sehari-hari.
“Kondisi ini harus menjadi perhatian bersama. Basa Bali adalah akar budaya dan memiliki dinamika yang memengaruhi kehidupan masyarakat Bali. Kesadaran kolektif perlu terus ditumbuhkan,” tandasnya.
Melalui Bulan Bahasa Bali VIII, Desa Adat Kelan berharap semangat pelestarian basa, aksara, dan sastra Bali semakin kuat dan mendapat dukungan luas dari seluruh krama adat.
(Red-Radarinspirasi)
























