BALI, Radarinspirasi.com – Forum Keluarga Paranormal dan Penyembuh Alternatif Indonesia (FKPPAI) memperingati sekaligus merayakan Hari Bakti (HBD) ke-25 dengan menggelar rangkaian kegiatan nasional di Bali, Selasa (17/2/2026). Momentum perak ini diwarnai pelantikan pengurus Sekda.
Ketua DPD FKPPAI Dr. dr. Anak Agung Gde Putra Wiraguna, Sp.DVE., SubSP.Ven., menegaskan bahwa peringatan seperempat abad organisasi menjadi tonggak refleksi dan penguatan komitmen pelayanan kepada masyarakat.

“Hari Bakti ke-25 ini bukan sekadar perayaan, tetapi momentum evaluasi dan konsolidasi nasional. Kami ingin menegaskan bahwa praktik penyembuhan alternatif harus berjalan profesional, beretika, dan berlandaskan nilai budaya Nusantara,” ujarnya dalam sambutan pembukaan.
Dihadiri Sekjen DPP dan Pelantikan Pengurus Sekda
Perayaan HBD ke-25 juga turut dihadiri Sekretaris Jenderal DPP FKPPAI, Dani Maharsa Djarot yang akrab disapa Bunda Dani. Kehadirannya memperkuat konsolidasi organisasi di tingkat pusat dan daerah.

Dalam momentum tersebut, dilakukan pula pelantikan pengurus Sekretaris Daerah (Sekda) yang baru. Jabatan tersebut sebelumnya diemban oleh Anak Agung Yuda yang telah berpulang satu tahun silam.
Posisi tersebut kini resmi digantikan oleh Andre Agus Ismail, yang dikenal dengan sapaan Gus Andre.
Prosesi pelantikan berlangsung khidmat dan penuh penghormatan terhadap jasa almarhum. Ketua DPD Bali menegaskan bahwa regenerasi kepengurusan menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan organisasi.
“Pergantian kepengurusan adalah hal yang wajar dalam organisasi. Kita menghormati dedikasi almarhum, sekaligus memberi ruang bagi generasi penerus untuk melanjutkan pengabdian,” ujarnya.
Ratusan Peserta dan Pelantikan Anggota Baru
Panitia mencatat ratusan peserta dari puluhan daerah hadir dalam kegiatan tersebut, termasuk perwakilan DPD dan DPC se-Bali.
Selain pelantikan pengurus Sekda, sejumlah anggota baru juga resmi dikukuhkan sebagai bagian dari upaya regenerasi dan penguatan struktur organisasi.
Menurut Wiraguna, FKPPAI memiliki program pembinaan internal, pelatihan etika profesi, serta mendorong sertifikasi kompetensi bagi anggota agar praktik yang dilakukan tetap aman dan bertanggung jawab.
“Kami ingin setiap anggota memahami batas kewenangan, etika pelayanan, dan keselamatan pasien,” tegasnya.
Apresiasi dari Ketua Umum FKPPAI
Ketua Umum FKPPAI, Ki Saung Rahsa, turut menyampaikan apresiasi atas suksesnya penyelenggaraan Hari Bakti ke-25 di Bali.
Ia menilai capaian seperempat abad organisasi merupakan bukti konsistensi FKPPAI dalam menjaga marwah profesi sekaligus melestarikan kearifan lokal Nusantara.
“Saya mengapresiasi seluruh jajaran DPD Bali dan panitia yang telah bekerja keras menyelenggarakan HBD ke-25 dengan penuh khidmat dan profesional.
Ini menunjukkan bahwa FKPPAI semakin matang, solid, dan siap menghadapi tantangan zaman,” ujar Ki Saung Rahsa dalam pernyataannya.
Ia juga menegaskan bahwa FKPPAI harus terus menjadi organisasi yang adaptif terhadap perkembangan regulasi dan teknologi, tanpa meninggalkan akar budaya bangsa.
“Kita harus berdiri tegak sebagai organisasi yang profesional, beretika, serta menjadi mitra strategis pemerintah dalam membangun sistem pengobatan tradisional yang tertib dan bertanggung jawab,” tegasnya.
Apresiasi dari Jenderal TNI (Purn.) Wiranto
Apresiasi terhadap penyelenggaraan HBD ke-25 FKPPAI juga datang dari Wiranto.
Dalam pernyataannya, Jenderal TNI (Purn.) Dr. H. Wiranto, S.H. menyampaikan penghargaan atas konsistensi FKPPAI menjaga warisan budaya sekaligus beradaptasi dengan perkembangan zaman.
“Pengobatan tradisional merupakan bagian dari kekayaan bangsa. Selama dijalankan secara bertanggung jawab dan selaras dengan sistem kesehatan nasional, keberadaannya patut didukung,” ujarnya.
Tantangan Era Modern dan Harapan Regulasi
Ketua DPD FKPPAI Bali mengakui, tantangan terbesar penyembuh tradisional di era modern adalah tuntutan profesionalitas, transparansi, serta integrasi dengan sistem kesehatan formal.
FKPPAI berharap pemerintah dapat memberikan regulasi yang jelas dan pengakuan resmi terhadap praktik pengobatan tradisional yang memenuhi standar etika dan keselamatan.
“Kami ingin menjadi mitra strategis pemerintah dalam melestarikan sekaligus menata praktik pengobatan tradisional agar tidak disalahgunakan,” katanya.
Visi Lima hingga Sepuluh Tahun ke Depan
Dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang, FKPPAI menargetkan penguatan sistem sertifikasi, digitalisasi data anggota, serta peningkatan literasi masyarakat terkait pengobatan tradisional yang aman dan profesional.
“Kami ingin memastikan praktik penyembuhan alternatif tetap relevan di tengah kemajuan teknologi medis modern, tanpa kehilangan akar budaya,” ujar Wiraguna.
Menutup rangkaian perayaan, Ketua DPD Bali menegaskan bahwa solidaritas dan persaudaraan antaranggota di seluruh Indonesia menjadi kekuatan utama organisasi dalam memasuki usia ke-25 tahun.
“FKPPAI adalah rumah besar. Persaudaraan dan pengabdian adalah fondasi kami untuk terus hadir bagi masyarakat Indonesia,” pungkasnya. (YY)
























