DENPASAR, Radarinspirasi.com – Kelanjutan proyek Bali Urban Subway atau kereta bawah tanah hingga kini belum menunjukkan kepastian meski groundbreaking telah dilakukan pada September 2024 di kawasan Sentral Parkir Kuta, Badung.
Pantauan di lokasi, area yang sebelumnya menjadi titik peletakan batu pertama masih berupa lahan kosong berpagar seng dengan papan nama PT Sarana Bali Dwipa Jaya (SBDJ). Groundbreaking saat itu dilakukan Penjabat Gubernur Bali Sang Made Mahendra Jaya bersama Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta, ditandai upacara ngeruwak sebagai simbol dimulainya pembangunan.
Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Bali I Kadek Mudarta menjelaskan proyek tersebut masih berada pada tahap kajian perencanaan. PT SBDJ, kata dia, sedang menjalin nota kesepahaman dengan China North Industries Group Corporation Limited (Norinco) untuk melakukan kajian rencana pengembangan jaringan kereta di Bali.
“Kajian itu akan menentukan lokasi, trase, dan aspek teknis lainnya. Saat ini mereka baru mulai melakukan kajian,” ujar Mudarta, Selasa (10/2).
Dishub Bali, lanjutnya, belum dapat memberikan penilaian lebih jauh sebelum hasil kajian disampaikan secara resmi. Peran pemerintah daerah baru akan berjalan ketika hasil kajian dilanjutkan dengan pengajuan trase untuk dievaluasi sebagai bahan pertimbangan gubernur.
Mudarta juga mengaku belum melihat kelanjutan kerja sama sebelumnya, termasuk dengan PT Bumi Indah Prima (BIP), dan mendapat informasi bahwa pengembang tengah mencari mitra baru untuk melanjutkan proyek tersebut.
Meski demikian, ia menilai kebutuhan transportasi publik di Bali tidak terelakkan karena keterbatasan lahan untuk pembangunan jalan baru. Moda transportasi berbasis rel, termasuk subway, dinilai dapat menjadi alternatif, namun tantangan terbesar adalah penyediaan lintasan khusus dan besarnya biaya investasi.
“Kalau ada layanan yang handal tentu dibutuhkan, tetapi subway memiliki tantangan biaya yang sangat besar,” katanya.
Sementara itu, DPRD Bali turut menyoroti belum jelasnya progres proyek tersebut. Ketua Komisi III DPRD Bali Nyoman Suyasa mengatakan rencana pembangunan kereta bawah tanah sudah lama digagas dan bahkan telah melalui prosesi groundbreaking pada 4 September 2024.
Menurutnya, proyek dirancang dalam empat fase, dimulai dari rute Bandara Ngurah Rai–Kuta, dilanjutkan Cemagi–Canggu–Mengwi yang disebut telah menyelesaikan studi kelayakan, sedangkan fase ketiga dan keempat masih dalam proses. Namun DPRD belum memperoleh informasi valid mengenai kelanjutan keseluruhan proyek.
Suyasa menilai keberadaan transportasi massal sangat mendesak untuk mengurai kemacetan di kawasan padat seperti Kuta dan Canggu. DPRD akan segera berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan dan Gubernur Bali usai masa reses guna meminta kejelasan realisasi proyek.
“Kami harus mengetahui progresnya karena kebutuhan transportasi massal di Bali sudah sangat mendesak,” ujarnya, seraya mengingatkan bahwa proyek tersebut memerlukan investasi besar dan perencanaan matang dari pihak investor karena tidak menggunakan pembiayaan APBD. (Red-Radarinspirasi)
























