Lebih dari Sekadar Berfoto: Desa Penglipuran Kini Ajak Turis “Menabung” Oksigen melalui Wisata Regeneratif

banner 468x60

BANGLI, BALI – Desa Penglipuran, yang telah lama dinobatkan sebagai salah satu desa terbersih di dunia, kini melakukan lompatan besar dalam dunia pariwisata. Tidak lagi sekadar menawarkan pemandangan rumah adat yang rapi dan lingkungan tanpa sampah, Penglipuran mulai menerapkan konsep Wisata Regeneratif (Regenerative Tourism).

Berbeda dengan wisata berkelanjutan (sustainable) yang fokus meminimalisir dampak negatif, wisata regeneratif bertujuan untuk meninggalkan tempat wisata dalam keadaan yang lebih baik daripada sebelumnya.

banner 336x280

Pengalaman Baru: Menanam Kehidupan

Mulai tahun 2025, wisatawan yang berkunjung ke Penglipuran tidak hanya diajak berjalan menyusuri jalanan batu andesitnya yang ikonik. Melalui program “Penglipuran Green Legacy”, setiap turis mancanegara maupun lokal diberikan kesempatan untuk berkontribusi langsung pada alam.

  • Program Adopsi Pohon: Wisatawan dapat menanam bibit bambu atau pohon lokal di kawasan hutan bambu seluas 45 hektar yang memagari desa. Setiap pohon yang ditanam akan diberi label digital (QR Code) atas nama penanamnya, yang perkembangannya bisa dipantau secara daring.

  • Workshop Pengolahan Limbah: Turis diajak masuk ke dapur-dapur warga untuk belajar sistem Teba—sistem pengolahan sampah organik tradisional Bali yang diubah menjadi kompos penyubur tanah desa.

Mengapa Ini Menarik bagi Dunia?

Bagi wisatawan mancanegara, terutama dari Eropa dan Australia, tren healing kini bergeser ke arah giving back. Mereka mencari destinasi yang memberi mereka rasa memiliki dan kontribusi nyata terhadap isu iklim global.

“Kami ingin tamu tidak hanya datang, berfoto, lalu pergi meninggalkan jejak karbon. Kami ingin mereka pulang dengan perasaan bahwa mereka telah membantu desa ini bernapas lebih lega,” ujar I Wayan Moneng, salah satu tokoh masyarakat di Desa Penglipuran.

Edukasi bagi Wisatawan Lokal

Bagi wisatawan domestik, pengalaman ini menjadi sarana edukasi yang kuat, terutama bagi keluarga yang membawa anak-anak. Belajar tentang filosofi Tri Hita Karana (hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan) dipraktikkan secara langsung melalui aktivitas fisik, bukan sekadar teori di buku sejarah.

banner 336x280

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *