TABANAN Radarinspirasi.com – Desa Adat Kediri, Kabupaten Tabanan, bersiap menggelar tradisi Tek-Tekan Nangkluk Merana menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1948. Ritual khas desa ini berbeda dari kebiasaan pengarakan ogoh-ogoh yang umum dilakukan di banyak wilayah Bali saat malam Pengerupukan.
Persiapan awal tradisi tersebut mulai dilakukan oleh krama Banjar Sema melalui prosesi penyucian sarana ritual pada Sabtu (7/3/2026) di Beji Bingin. Prosesi ini menjadi tahapan penting sebelum pelaksanaan ritual utama yang dijadwalkan berlangsung pada pertengahan Maret.
Dalam ritual penyucian itu, sejumlah perangkat tradisi seperti okokan, kentongan, hingga instrumen musik beleganjur disucikan sebagai simbol pembersihan spiritual sebelum digunakan dalam rangkaian upacara.
Kelian Banjar Sema, I Ketut Budi Muliawan, menjelaskan penyucian sarana merupakan prosedur wajib untuk menjaga kesakralan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur desa.
“Kami sucikan sarana seperti okokan dan kentongan ini di Beji Bingin sebagai bentuk permohonan keselamatan agar saat digunakan nanti kesucian tradisi tetap terjaga,” ujarnya, Minggu (8/3/2026).
Menurutnya, tradisi Tek-Tekan tidak hanya dimaknai sebagai pertunjukan budaya, melainkan ritual spiritual yang dipercaya masyarakat setempat sebagai sarana penolak bala sekaligus momentum memperkuat kebersamaan antarwarga desa.
Sementara itu, Bendesa Adat Kediri, Ida Bagus Ketut Arsana, menjelaskan Tek-Tekan Nangkluk Merana merupakan ritual khusus yang bertujuan mengusir wabah penyakit maupun hama yang diyakini dapat mengganggu keseimbangan alam dan kehidupan masyarakat desa.
Pada tahun ini, rangkaian tradisi akan dilaksanakan selama enam hari berturut-turut, mulai 12 hingga 17 Maret 2026, dengan melibatkan krama dari tujuh banjar di wilayah Desa Adat Kediri.
Selama pelaksanaan ritual, para krama akan melakukan prosesi ngider atau berkeliling desa sambil membunyikan okokan, kentongan, serta instrumen tradisional lainnya secara serempak.
“Tradisi ini adalah bentuk permohonan kami kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar desa selalu dalam keadaan selamat, harmonis, dan rahayu menjelang Hari Raya Nyepi,” kata Ida Bagus Ketut Arsana.
Tradisi Tek-Tekan di Desa Adat Kediri diketahui telah rutin digelar sejak 2013 dan menjadi agenda tahunan masyarakat setempat. Ritual ini dikenal menggunakan okokan, lonceng kayu besar yang biasanya dipasang pada sapi, yang menghasilkan suara ritmis khas saat dibunyikan bersama-sama oleh warga desa. (Red-Radarinspirasi)










































